PARTAI-PARTAI
PARTAI LAINNYA

PEMILIH BICARA
20/08/09 12:32
 
Tommy Cegah Golkar Jadi Partai Gurem!
Syahrul Salam

Tampilnya Tommy Soeharto ke panggung politik nasional menghentakkan suasana internal Partai Golkar. Kehadiran Tommy dianggap tepat, yakni di saat Golkar sedang mencari figur pimpinan baru menjelang Munas yang menurut rencana akan digelar awal Oktober 2009. Tapi benarkah Tommy figur yang dibutuhkan Golkar?

Di dalam internal Partai Golkar sendiri ada yang menyangsikan, bahkan menyepelekan kadiran Tommy. Para generasi tua partai ini bahkan dengan nada sinis mengungkapkan tipisnya peluang Tommy untuk menjadi ketua umum Partai Golkar menggantikan Jusuf Kalla (JK). Walaupun, politik di republik ini tidak seperti matematika yang penuh kepastian. Hasil dari proses politik tak jarang menunjukkan perbedaan dari asumsi awal.

Jika menjelang Munas Golkar, hanya ada dua nama kuat kandidat ketua umum Partai Golkar yang mengorbit, yakni Aburizal Bakrie yang didukung oleh kelompok Fadel Muhammad Cs dan Surya Paloh yang mendapat dukungan dari JK sendiri. Minggu ini, nama Tommy dimunculkan dan diprediksi bakal menjadi 'kuda hitam' di antara Bakrie dan Paloh.

Ada beberapa pertimbangan mengapa Tommy layak memimpin Golkar dalam lima tahun mendatang. Pertama, Tommy bukanlah 'orang baru' dalam partai politik. 'Keterasingan' Tommy dalam satu dasawarsa terakhir di dunia politik tanah air semata-mata karena adanya

perubahan arus besar dalam perpolitikan domestik. Tommy sebagai anak biologis Soeharto tentu menerima ekses reformasi yang menenggelamkan Soeharto.

Seiring dengan kematangan proses berdemokrasi di tanah air, tentu bukan hal yang haram ketika Tommy come back ke dunia politik, dunia yang dulunya juga membesarkan namanya di samping dunia bisnis. Keanggotaan Tommy di DPR RI periode 1993-1998 menjadi bukti bahwa Tommy bukanlah orang yang 'buta politik'.

Kedua, posisi Tommy yang lebih dikenal sebagai pengusaha telah ikut memperkuat posisinya sebagai salah satu top leader tanah

air yang mampu membesarkan rumah bisnis. Nilai plus dari poin ini adalah kemampuan manajerial Tommy relatif teruji, misalnya di bawah Humpus. Pada posisi ini, Tommy tentu memiliki kemampuan sama dengan Bakrie maupun Paloh.

Ketiga, secara institusi, Golkar mestinya berkepentingan untuk mencari dan menemukan 'darah segar' di tubuh partai, jika tidak ingin menjadi partai gurem pada 2014. Pola, model, dan desain kebijakan politik Golkar sejauh ini stagnan. Tak salah kalau semenjak pemilihan legislatif sampai dengan pemilu presiden, suara Golkar anjlok.

Sementara tantangan dan ancaman eksistensi partai terus bermunculan dengan berbagai dinamika yang ada. Untuk itu, figur Tommy terlebih jika disandingkan dengan Yuddy Chrisnandi, akan menjadi 'oase' bagi Partai Golkar dan kader muda lainnya. Keunggulan kedua kader Golkar ini jika disandingkan, maka dipastikan akan menjadi 'duet maut'.

Justifikasinya adalah Tommy memiliki kemampuan makro dan juga keunggulan finansial, sementara Yuddy memiliki kapabilitas dalam manajemen organisasi politik. Lebih dari itu, representasi keduanya sebagai tokoh muda dan brilian mengikuti trend politik global, tempat orang-orang muda banyak dipercaya dan diberi kesempatan untuk mimimpin. Usia produktif keduanya relatif akan mampu menjawab tantangan politk domestik dalam lima tahun ke depan. Kehadiran Tommy dan Yuddy merupakan affirmative action bagi Golkar (yang sekarat) untuk menjadi besar.

Keempat, di tengah isu bursa calon ketua umum Partai Golkar, muncul penghadangan terhadap kehadiran Tommy, khususnya dalam permainan tata aturan organisasi, misalnya AD/ART. Jika ditelisik lebih jauh, karakter politik Indonesia yang serba mungkin, maka posibilitas Tommy menjadi orang nomor satu di Golkar sangat terbuka.

Syarat menjadi ketua umum Partai Golkar seperti; pernah menjadi pengurus partai, aktif, pernah diklat, memiliki prestasi, memiliki kapabilitas dan ekseptabilitas, tidak pernah terlibat G 30 S/PKI, dan memiliki waktu bagi partai, merupakan syarat yang relatif terpenuhi bagi Tommy. Lebih dari itu, forum Munas yang dapat mengagendakan perubahan AD/ART pun juga dapat dilakukan. Dengan demikian, kesempatan Tommy pada aturan internal terbuka lebar.

Terakhir, tahun 2009 ini adalah kesempatan terakhir bagi Golkar untuk berbenah dan mengavaluasi diri. Selama sepuluh terakhir sebenarnya telah ada 'lampu kuning' bagi keberlangsungan partai ini. Dengan ini, bukan tidak mungkin Golkar akan tiarap senasib dengan partai cap gurem pada 2014, jika terobosan politik tidak dilakukan di internal partai.

Menduetkan kader dengan kemampuan kolektif (seperti Tommy dan Yuddy) adalah salah satu alternatif terbaik. Di sisi lain, bila kepemimpinan Aburizal Bakrie atau Surya Paloh dipaksakan, maka bagi SBY sebenarnya tak akan lebih dari 'beban politik' jika ia berniat menggandeng Golkar sebagai bagian dari koalisi. 'Noda hitam' Bakrie di Lapindo masih sangat kental, sementara petualangan politik Surya Paloh tetap unpredictable!

Penulis adalah pengajar FISIP UPN Veteran Jakarta (syahrul.salam@yahoo.co.id)

[ Baca Komentar (2)   |   Kirim Komentar ]
BERITA TERKAIT
Tags : Tommy, Golkar, Munas
load in : 0.001157999 "