

INILAH.COM, Jakarta - Boleh saja SBY-Boediono meraih 60% pemilih. Namun, untuk merangkul barisan partai pendukung dalam Pilpres 2009 bukan perkara mudah. Alhasil, SBY dibayangi barisan yang siap patah hati jika keinginannya tak diakomodir.
Santernya rencana Partai Golkar bergabung dalam pemerintahan SBY-Boediono seperti menjadi indikasi pertama, SBY dikhawatirkan mengabaikan barisan partai pendukungnya dalam Pilpres 8 Juli lalu. Itu baru indikasi awal, banyak faktor lainnya yang bisa memunculkan barisan patah hati di kubu SBY.
Kondisi ini terbaca dari pernyataan Ketua FPKS DPR Mahfudz Siddiq yang secara tegas menolak rencana bergabungnya Partai Golkar dalam koalisi SBY-Boediono pasca terpilih dalam Pilpres 8 Juli lalu.
“Kalau bobot yang diberikan SBY kepada Golkar kebesaran, ini bisa memicu konflik di internal koalisi. Kok enak benar dapat porsi power sharing lebih besar padahal dalam kampanye mereka jadi musuh sementara kita yang berkeringat memenangkan SBY-Boediono,” katanya.
Lain lagi jika kondisinya, dalam penyusunan kabinet peridoe 2009-2014, SBY atas nama membentuk kabinet ahli, dengan memasukkan tim kampanye dari kalangan professional untuk duduk di kabinet.
Karena, jajaran pesonil yang duduk di Tim Kampanye Nasional (Timkamnas) SBY-Boediono tak hanya dari kalangan partai politik, tetapi juga kalangan profesional dan akademik. “Risiko membentuk zaken kabinet akan ada kekecewaan di partai pendukung,” ingat pengamat politik Sukardi Rinakit.
Soal barisan patah hati sebenarnya cerita masa lalu bagi SBY dan rekan-rekannya dalam Pilpres 2004 lalu. Sejumlah nama yang dulunya menjadi loyalis SBY berbalik arah. Seperti Bahaudin Thonti pendiri Partai Demokrat, M Yasin bekas Ketua Barindo yang juga bekas Sekjen Dewan Pertahanan Nasional (Wantanas) yang memilih di belakang barisan Mega-Prabowo.
Sumber INILAH.COM justru menyebutkan kalangan yang bakal mengisi pos strategis justru berasal dari gerbong cawapres Boediono. Menurut dia, figur seperti Sri Mulyani, Anggito Abimanyu, dan Chatib Bisri akan mengisi pos strategis. “Jatah menteri justru paling banyak dari geng Boediono,” ujarnya.
Tidak mustahil, tokoh di lingkaran Boediono akan menjadi tokoh penting dalam kabinet mendatang yang berarti mengisi pos-pos strategis. Figur seperti Raden Pardede, M Chatib Bisri termasuk Sri Mulyani, selama masa kampanye menjadi garda terdepan dalam mengcounter isu yang mampir ke Boediono maupun pemerintah seperti soal paham ekonomi neoliberal serta jumlah beban utang pemerintah.
Pos strategis tersebut di antaranya Menteri Keuangan, Menko Perekonomian, dan ESDM. Jika hal tersebut terbukti, atas nama membentuk kabinet ahli, SBY akan mengenyampingkan barisan pendukungnya dengan merekrut inner circle Boediono.
Namun bagi Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum, secara normatif etis pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada Presiden untuk memilih menteri terkait figur maupun asalnya. “Siapa saja, dari kader partai atau nonpartai, komposisinya, dan kapan akan ditetapkan, itu hak presiden,” ujarnya.
Semua berharap SBY tidak menambah deretan kelompok patah hati. Dengan tipikal menyenangkan banyak pihak serta mengakomodasi rival politik, jelas akan membuat stabilitas di pemerintahan. Meski risikonya, harus ditinggal oleh sahabat dan orang dekatnya. [E1]