

INILAH.COM, Jakarta - Elektabilitas pasangan SBY-Boediono yang bertengger di posisi puncak kini mengalami kemerosotan lagi. Hasil riset politik yang digelar Lembaga Survei Indonesia (LSI) menunjukkan pamor capres incumbent itu menurun hingga 4 persen. Mengapa?
Survei LSI 20 Juni-2 Juli, SBY-Boediono masih tetap unggul dari lawan politiknya, yakni 63,1 persen, Megawati-Pro sekitar 19,6 persen dan JK-Win sekitar 10,6 persen. Namun angka yang diperoleh SBY-Boediono terus merosot dari puncaknya yang mencapai 70 persen.
Menurut peneliti senior Lembaga Survei Indonesia Burhanudin Muhtadi, penurunan elektabilitas capres incumbent salah satunya disebabkan oleh gencarnya kampanye yang dilakukan oleh kubu lawan politiknya.
"Langkah strategis yang dilakukan kedua pasangan capres Megawati Soekarnoputri-Prabowo dan Jusuf Kalla-Wiranto salah satu penyebab turunnya elektabilitas tersebut," kata Burhanudin di Jakarta, Sabtu (4/7).
Jika SBY-Boediono tidak melakukan antisipasi, elektabilitas pasangan itu diprediksi akan menurun hingga pelaksanaan pencontrengan 8 Juli nanti.
"Tetapi berapa penurunannya kami belum dapat memprediksi, namun hal itu tidak akan mempengaruhi keinginan pasangan itu pemilu satu kali putaran," ujar dia.
Karena walaupun turun dalam empat hari ini, pasangan SBY-Boediono masih di atas lawan-lawan politiknya yaitu sekitar 50 persen lebih. "Terkecuali jika pasangan Mega-Pro dan JK-Win dapat meningkatkan elektabilitasnya hingga masing-masing 10 persen," imbuhnya. [*/ana]